Weda – M. Dafa Al Amru merupakan siswa kelas XI di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Halmahera Tengah. Dafa lahir di Tidore pada 20 Mei 2008.
Anak dari Bapak Ambran Djalaluddin dan Ibu Rugaya Fabanyo ini sejak kecil memiliki ketertarikan terhadap cerita-cerita yang menyentuh hati, terutama cinta, kehilangan, dan kenangan masa muda.
Buku “Yang Terindah Pernah Pergi” merupakan karya debutnya ditulis dari pengamatan dan pengalaman yang tak selalu sempat diungkapkan.
Bagi Dafa, menulis adalah cara untuk menghidupkan rasa yang pernah ada, dan menyampaikan hal-hal yang tak sempat tersampaikan secara langsung.
Sebelum menulis buku “Yang Terindah Pernah Pergi”, Dafa sempat menulis buku “Coretan Pena Pemula”. Namun karya tersebut merupakan kolaborasi bersama dengan sejumlah siswa MAN 1 Halmahera Tengah.
Sinopsis dari buku “Yang Terindah Pernah Pergi” menceritakan kisah tentang cinta pertama yang tumbuh perlahan dari tatapan diam-diam, menjadi tawa bersama, hingga berubah menjadi perpisahan yang diam-diam mengajarkan banyak hal.
Buku ini menceritakan dua insan muda tumbuh bersama di masa putih biru. Mereka saling menemukan kenyamanan dalam kebersamaan sederhana. Namun, seperti halnya waktu, perasaan pun di uji.
Kesibukan, keraguan, dan ego mulai menyusup perlahan, membuat kedekatan berubah menjadi jarak, dan tawa berubah menjadi diam.
Melalui bab ke bab yang penuh nuansa perasaan, pembaca diajak menyelami perjalanan emosional tokoh utama yang bagaimana ia mencintai, mempertahankan, lalu akhirnya belajar mengikhlaskan.
Di balik kehilangan, tersimpan pelajaran tentang kesabaran, kedewasaan, dan keikhlasan yang dibingkai dengan nilai-nilai keislaman.
Ini bukan hanya kisah tentang cinta yang pernah indah, tapi juga tentang bagaimana Allah mendidik hati hamba-Nya melalui perasaan yang datang dan pergi. Sebab, tidak semua yang kita genggam harus dimiliki selamanya. Kadang, yang terindah justru yang pernah pergi.
Pewarta: Diman
Editor: Diman
Tinggalkan Komentar